Oct 7, 2009

kerinduan...

Perasaan ini sebenarnya terlalu pribadi untuk ditulis disini. Tapi kemudian, saya merasa toh banyak juga yang mengalami hal yang serupa. ga ada salahnya pula orang lain memahami bagaimana perasaan ini bergulung dibalik senyum saya. Betapa banyak airmata sudah tumpah untuk menyampaikan kerinduan saya yang mendalam, kerinduan yang bukan berdasar keinginan memiliki semata, tapi merupakan naluri, insting, dan esensi hidup seorang perempuan. Sang Ratih yang dibekali  gua garba untuk didiami   daru lintang ati. Tanah subur tempat Kama menyemaikan benih-benih kehidupan dan mengejawantahkan si kehidupan baru.

Kerinduan pada makhluk kecil yang membuat hidup para perempuan dihabiskan kepyoh namun penuh tawa.

Genduk dan Thole. Genduk-genduk dan thole-thole.
Ah. Menyebut gitu saja sudah membuat hati saya tergelitik hangat.

Saya mungkin bukan perempuan yang nampak kalem,  tur keibuan. Tapi tanyalah siapa saja yang anaknya pernah saya gendong atau momong, pasti mereka bilang saya sudah pantas, luwes dan mampu ngopeni  bocah-bocah. Saya menikmatiiiii sekali waktu-waktu berkunjung menengok teman lahiran. Acara pilih-pilih kado buat si buah hati pasti saya jalani sepenuh hati, seolah2 ini buat sang daru pelita hati saya sendiri. Apalagi ketika menggendong makhluk mungil menggemaskan yang mulutnya selalu umik-umik minta mimik, ah, rasanya… tidak terkatakan. Dan waktu mendekap si bayi pada dada saya, seluruh tubuh wanita saya merasa dipasung dalam ketidakmampuan menumbuhkan benih-benih kehidupan.

Saya iri. Iri sampai sesak nafas setiap melihat akrabnya teman-teman saya pada genduk-tholenya. Bagaimana si kecil bergayut manja pada dada ibu yang mengalirkan sumber kehidupan pada tubuh mungil itu. Bukankah jaladri payudara pawestri sendang tirtaning ngagesang munggeng jabang bayi, pinda samudra Werkudara manggih jatining dewa ruci…. Bukankah memang begitu…

Ah, tapi keirian saya bukan iri benci. Bukan iri dengki. Saya iri rindu. Rindu setengah mati kapan tangan2 mungil itu akan memainkan rambut saya, mencubit-cubit pipi saya dan mata itu memandangi saya penuh ketergantungan sebagai simbok…

Duh, Gusti… saya mencoba sabar. Saya tidak mengeluh. Saya sumarah….

Bukan, bukan maksud saya mengeluh atau menghujat sang  Gusti Hyang Murbeng Rat… tidak, bukan…
Saya pasrah. Tidak pernah pula memaksa. Saya yakin dan percaya, Sang Pemilik Hidup telah menuliskan kapan dan dimana. Dan kalaupun tidak tersurat kapan dan dimananya, saya percaya itulah yang terbaik.