Apr 29, 2010

mengacak-acak gabah mbahkung

Buat mbakku sayang,
Mbak, kita memang bukan gadis-gadis cilik lagi yang suka lari-larian di baba'an gabah mbah kung di dusun yang panas tapi damai itu. Bukan pula anak-anak yang masalah terbesarnya adalah pareng napa mboten minum dari gelas simbah... Meski kita tumbuh dewasa sendiri-sendiri, dari kecil sampai kini, kamulah mbak sejatiku, sedhulur yang meski ndak plek sedarah, tapi secara bathin, kamulah mbakyuku tersayang.

Aku bingung harus bagaimana mesti menyampaikannya. Karena semakin dewasa, semakin pintar kita tersenyum. Bahagia, meski mungkin pura-pura. Toh setiap kita lebaran ketemu, tak pernah secuil pun keluh terucap dari bibirmu. Dan aku terlalu percaya bahwa kita semua bahagia, atau aku memang terlalu malas melihat kedalam jiwamu...

Aku merasa lancang kalau mau bertanya, "kamu bahagia mbak?". Toh akupun yakin kamu bakalan mengangguk. Aku merasa kemeruh kalau tiba-tiba harus bicara, "Mbak yang kuat ya."

Alah, aku memang kemeruh. Buktinya sekarang tanpa curhatan apa-apa aku nulis beginian. Tapi entah kenapa, tiap baca puisi-puisimu aku perih. Aku benci karena aku ga tau apa-apa. Aku nyesek karena merasakan beban bathinmu yang terasa kelewat berat. Aku ikut merasa patah. Ikut merasa nelangsa. Aku pun ikut merasa tak dicintai...


Hati.
Ya, hati.

Siapa yang mampu melihat dalam hatimu selain dirimu sendiri mbak?
Biarlah aku dibilang kemeruh. Dan aku minta maaf kalau tulisanku ini malah membuatmu sedih. Atau marah. Tapi aku sayang karo panjenengan.
Aku merasa gerakku sempit karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk meringankan bebanmu. Atau menyembuhkan sayapmu.

Dari sini, aku cuma bisa berdoa mbak, untuk kebahagiaanmu. Kebahagiaanmu saja...

ayo sayang kita lihat lukisanmu...

Ketika membaca postingan icha tentang mamanya, saya merasa 'biasa' aja. Sesederhana karena saya dekat mengenal icha dan sering mendengar cerita tentang sang mama.

Malamnya, saat mau tidur dengan heart burn dan mual dan night sickness lainnya, terus tiba-tiba ingat saya mau jadi Ibu, saya mereka-reka lagi relasi ibu dan anak yang pernah saya jumpai.

Icha dan mamanya adalah anomali dalam hidup saya. Bukan berarti hubungan saya dan mama tidak baik. Tapi begini.....

Tidak banyak ibu yang merelakan anak 'membentuk' dirinya sendiri. Menginginkan mimpinya sendiri. Hidup dalam jalannya sendiri. Karena gambaran UMUM seorang perempuan ideal di dunia ini adalah jika ia mampu membentuk anaknya menjadi pribadi yang sukses. Dan UMUMnya, sukses adalah *mengutip icha* punya apartemen. Atau punya mobil, tabungan 25 milyar, karier, gelar berderet dan punya punya punya punya lainnya. 

Sukses dalam arti 'kepuasan diri' adalah bukan sukses.

Kalo dalam kasus Icha, kepuasan diri itu salah satunya adalah tiket-tiket perjalanan, cap cap paspor, karcis-karcis pertunjukkan teater dan buku-buku yang bertumpuk disisi bantal.

Dan mamanya tau.
Dan mamanya setuju. Atau setidaknya ga protes.


Mama dan saya punya hubungan ibu-anak yang tipikal. We love each other and all, tapi 'mimpi' saya adalah sebenernya mimpi beliau. Dulu mama berhenti kuliah karena menikah sama papa, dan langsung diberi tanggung jawab berupa saya. Saya ngerti sih, pasti banyak cita-cita beliau yang akhirnya harus dikubur karena mesti merawat saya.

Dan cita-cita itu harus tetap diwujudkan. Lewat saya.

Dari kecil, nasehat harian saya adalah, "Kamu anak mama. Anak pertama. Kamu harus buat mama bangga. Sekolah yang pinter. Kerja ditempat yang enak. Punya uang sendiri, ga perlu minta suami...".
Waktu balita saya ga pernah lepas dari yang namanya bisul di kepala. Kebanyakan protein karena mama terobsesi bikin saya pinter dan cara yang dipilihnya adalah: konsumsi 3 kali sehari telur ayam kampung setengah mateng+susu+madu.

Setiap pulang sekolah, buku pelajaran hari itu harus ditunjukkan pada beliau dan kalau ada tanda-tanda saya ga ngerti, saya ga boleh main, harus terus berdiri didepan papan tulis yang dipasang dirumah sendiri sambil memecahkan apapun itu yang ga saya ngerti. Tiap malam, saya ga diperbolehkan tidur sebelum saya berhasil mengerjakan soal2 bikinan beliau *kebetulan emang mama lulusan sekolah guru, dan 'jebolan' IKIP*. Kalo saya ga bisa ngerjain, mau nangis kayak apa juga ga boleh pergi dari depan papan tulis.
Jangan ditanya kalo terima rapot. Kalo saya bukan juara satu, selama catur wulan selanjutnya kuping saya dijamin panas karena motivasi negatif, "si A aja jauh lebih bagus nilainya daripada kamu!"

Berat ya hidup masa kecil saya?

Menginjak SMA, hidup saya agak mulai longgar, karena mama mulai memperbolehkan saya berorganisasi. Waktu itu saya serius masuk teater dan pecinta alam sekolah. Tapi bentuk 'kerasnya' pendirian mama berubah. Dari diktatorisme jaman SD-SMP, sekarang taktik yang mama pakai adalah 'jurus memelas', "Coba ya, kamu ga ikut kegiatan macem-macem, pasti kamu bisa pinter."
Jaman SMA pula saya belajar bahwa lebih baik bohong sama mama untuk hal-hal tertentu.

Oh... dari kecil saya suka baca...
Hobi yang positif inipun masih susah diterima mama. Kata beliau, "coba kamu ga hobi baca-baca novel, pasti lebih banyak waktu buat belajar". :(

Dan lambat laun, mimpi-mimpi yang ingin saya raih pun adalah mimpi2 mama.
 Saya lupa kalau saya suka berada diatas panggung. Saya suka menyanyi. Saya suka berada di alam dengan bau-bau tanah, daun dan rumput.
 Saya suka berpetualang, nyasar, kebingungan disuatu tempat yang ga ada seorang pun yang saya kenal atau mintai tolong.

Dan bahkan ketika saya sudah dewasa dan menikah, saya masih takut untuk cerita kalau kemana-mana. Cerita ke mama hanya akan memancing reaksi, "Kamu itu ngabis-ngabisin uaaaang aja. Beli rumah sana. Atau beli mobil.". Dan ujung2nya saya merasa bersalah atau kecewa. Sama seperti icha, nilai kebahagiaan saya sebenarnya tidak pernah berada dalam 'memiliki barang'. Saya akan jauuuuuh lebih bahagia saat bisa bercerita kepada anak saya atau cucu saya atau siapa aja, bahwa saya pernah kesini kesitu dengan pengalaman ini itu.... Tapi entahlah... Untuk melangkah menyalahi 'jejak' yang ingin diukir mama saya tidak pernah cukup berani.

Saya sendiri berharap nanti akan menjadi ibu yang tidak pernah melupakan keinginan anaknya sebagai individu. Saya pengen bisa mengatakan, "Waaaah, kereeeen" dengan antusias setiap anak saya menceritakan hobi atau cita2nya. Saya ingin jadi orang pertama dan paling depan yang bertepuk tangan seandainya dia jadi pemain bola, atau menyanyi diatas panggung, atau menampilkan suatu kesenian absurd yang ga dimengerti oleh semua orang dan tetap semangat bilang, "baguuuusss"... Saya akan jadi orang pertama yang membeli suatu majalah, jika ia menulis cerpen atau mengambil foto atau menyusun berita yang dimuat didalamnya. Saya akan menyusun kartu pos darinya, andaikan dia memutuskan mengembara saja didunia dan hidup sebagai penulis lepas majalah travelling. Bahkan kalaupun dia mau jadi pemaen sinetron atau anggota dpr *sigh* saya akan tetep bahagia dan bangga terhadapnya....



Apr 27, 2010

quick update saja dari bumil centil

Rasanya asing waktu log in lagi dan ngeliat begitu banyak update-an dari temen-temen blogger yang sama sekali terlewatkan dalam masa hiatus-hampir-dua-bulan ini. Sejak terakhir kali saya menulis tentang adanya si kecil ini *baca: si kecil tersayang, my precious, the one i already fell for since the first time i saw the lab result, my baby darling..* +elus elus perut khidmat+, begitu banyak yang saya alami dan rasakan. Mostly...just happy.

Plain happiness.
Perasaan bahagia yang halus, seperti air tanah yang diam-diam menyusup di urat-urat kapiler halus ibu bumi.
Perasaan cinta yang timbul dalam satu jentikan jari, namun makin hari tumbuh makin kuat, protektif, dan sampe sekarang masih belum bisa saya pahami benar-benar kok-bisa-begitu rasanya.
Perasaan takjub tiap kali pagi-pagi ngeliat kaca dan memandangi perut-4-bulan saya....


Unexplainable.


Pertama kali datang kedokter dengan keluhan ga enak badan, demam, pusing, sakit-kayak-maag-infeksi-lambung-biasanya, saya masih dikasi obat2an, termasuk antibiotik. Waktu itu, saya bener-bener ga mengira saya hamil. Telat sih telat, tapi berhubung telat-is-my-middle-name, saya sama sekali ga nyangka kalo kemungkinan saya hamil itu terbuka lebar. Saya inget, waktu itu lagi UTS, dan beberapa temen kuliah deket saya agak-agak kuatir karena saya ngeluh sama sekali ga bisa makan. Tiga hari kemudian,  saya balik ke dokter karena sakit saya ga membaik2 juga. Tes lab. Dan kami berdua stoned kayak orang bego waktu dokternya bacain hasil lab.

Dalam hati saya, masih ada keraguan, jangan2 urine saya ketuker sama pasien lain. Sampe-sampe saya ga berani nyoba testpack ndiri saking takutnya kecewa.... *well, mengingat banyaknyaaaa pengalaman-negatif-mengecewakan dengan testpack, wajar kaaaan kalo saya trauma???*

tante vio nangis nangis bombay waktu denger, padahal saya senyum2 najong. Om Roid sama Banu lompat-lompat girang di warung soto, lebih girang daripada waktu mereka dapet gaji ketiga belas... *ngarang abeess*.
Tante Icha ngomel2 waktu ga dikabari pas opname dirumah sakit.
om (atau tante?? _ _") perez ga kalah excited dm-dm di twitter.. *tuuuu udah ditambahiiin*
Ibu-ibu geng alir pukin bit jaman d3 treak-treak ditele sampe nyuekin anaknya yang  nangis.
Mama histeris, Papa sok cool, tapi besokannya jam 4 pagi nelpon cuma bilang makan yang bener ya.
Mamah mertua shock. ga bisa ngomong apa2. tapi langsung nelpon adek ipar jejeritan ga jelas.

Oh... and moi?
happily speechless. cuma bisa alhamdulillah alhamdulillah alhamdulilllah.
Gimana nggak ya, ini tuh bener-bener kayak petir disiang bolong. Asap hadir tanpa api. Nasi yang sempurna ga jadi bubur *apa seeeh*. Karena saya dan mr hubby sudah melakukan pembicaraan pendahuluan, pemeriksaan hati pendahuluan *auditor alert* terhadap kemungkinan adopsi. Bayi tabung dari awal sudah kami coret dengan berbagai macam pertimbangan.
Sering malam2, pillow talk kami adalah mempertimbangkan opsi-opsi gimana caranya hati kami bisa bener2 siap nerima kehadiran bayi yang bukan benar2 darah daging kami. Susah tau. Bukan apa-apa, kami takut kami sok siap tapi ternyata ujungnya malah kasian anak ini nantinya kalo kami masih memendam kecewa atas jalan hadirnya dia di hidup kami. Kami percaya bayi itu bisa ngerasa, dan kami bener2 berniat mau melakukan opsi itu kalo bener2 kami bisa ikhlas.

Dan voila!!
Tuhan memang suka becanda...




Sekarang, saya ga sabar tiap kali nungguin waktu kunjung selanjutnya ke dokter kandungan. Waktu USG yang cuma beberapa menit itu jadi momen2 indah hidup saya saat ini. Apalagi ngeliat denyut jantungnya *alhamdulillah kuat banget*.
Ngeliat tangan-kaki kecilnya yang pas USG terakhir udah diangkat2, padahal panjang badan dia baru 5 cm.. *ga tau tapinya itu gerakan reflek apa dia udah sadar kalo gerak ya?*
Atau sebelum ada tangan-kakinya, waktu itu dia ngangkat2 pantat...==> genit emang dia. kayak emaknya :D

Walaupun hamilnya saya ini bisa dibilang agak-agak berat==>hiperemesis sampe opname, tergantung sama obat mual :(, keluhan fisik lainnya, sampe tiap kali buka laptop pun rasanya pusiiiiiing banget. oh, terus jadi ga bisa masak, karena sensi sama bau-bauan, males mandi, eeerrr yang ini kayaknya emang males aja sih<== tapi saya kok ya ga ngerasa berat ya. 

Tau ga sih, rasanya kayak apa ya... mungkin kayak kalo kalian cinta buta rela mati rela mengarungi sahara lautan badai gitu deh...

Semua kejadian tak terduga-duga ini makin membuat saya percaya, Tuhan tidak diam. Dia suka menyalip di tikungan dan meletakkan bingkisan-bingkisan hadiah disudut-sudut jalan. Dan jika kita memilih jalan persimpangan yang tepat dan cukup jeli meneliti, bingkisan itu diberikan cuma-cuma buat kita....


Kalau ada yang saya pelajari: harapan itu selaluuu ada. Dan mungkin bentuknya tidak selalu berupa 'percaya bahwa keinginan kita suatu saat akan dikabulkan'. Kadang 'harapan' terletak pada 'penerimaan sebenar2nya atas suatu kenyataan dan kemauan kita melihat opsi lain yang ada. Mungkin bagi kita, opsi itu nampak seperti second best. Tapi disaat kita bener2 bisa menerima bahwa second best, sekian best atau bahkan pilihan yang-terlihat-terburuk adalah pilihan terbaik yang masuk akal, Tuhan mungkin akan memberikan kejutan manis...'